Kau tahu Sayang…? Mereka adalah orang-orang yang jujur. Ya, mereka itu. Para bandit dan pencoleng itu. Mereka jujur bahwasanya mereka tidak jujur. Mereka jujur bahwa mereka itu bandit, mereka itu pencoleng. Sebuah kejujuran yang indah bukan? Dan kau tentu sahaja tahu dengan pasti, kejujuran itu menakjubkan, sekaligus menuai heran saat kita bicara tentang masa.
Kejujuran para bandit itu, bahwa mereka bukan orang baik-baik, maka itulah makna kejujuran bagi mereka. Dengan kehidupan mereka tentu sahaja. Paling tidak, kejujuran itu punya maqomnya sendiri bagi orang-orang sepertiku sayang. Kejujuran yang memaksaku menuliskan : Seberapa jujurkah aku?
Aku mulai berpikir saat menyadari kejujuran para bandit itu. Adakah mereka sebandit yang aku kira? Atau justru aku yang mulai melihat mereka seolah menertawakan kehidupanku? Aku seolah melihat mereka tersenyum sinis, penuh ironi dalam memandangku. Siapa yang bandit?
Entah itu di hotel bintang sejuta atau di hotel bintang lima, bandit tetaplah bandit. Dan kejujuran selalu punya cara untuk menunjukkan dirinya begitu menakjubkan.
Para bandit itu punya keluarga tentu saja. Anak dan isteri. Sama seperti aku, sama seperti kita. Para bandit itu, dan keluarganya, makan makanan yang mungkin sama seperti yang kita makan. Para bandit itu bekerja juga, sama seperti kita. Hanya saja, kita tak pernah mau sejujur mereka. Pada diri kita, pada keluarga kita, pada anak-anak kita, pada isteri kita. Siapa yang bandit?
Mungkin aku memang pemalu Sayang. Bahkan untuk sekedar bercerita padamu tentang seberapa yakin aku mendulang pahala dalam setiap suap nasi untukmu. Aku malu Sayang.
[belum selesai]















































