Puisi cinta. Itu kata yang paling banyak di cari orang yang kebetulan nyasar ke blog sederhana ini via search engine. Kaget juga sebenarnya. Betapa tidak? Postingan tentang puisi cinta –kalau memang bisa disebut demikian- Cuma satu saja sepanjang hayat blog ini. Setidaknya sampai saat postingan ini dibuat. Banyak yang bilang puisi itu bagus. Dan menurut saya juga memang bagus (narsis mode on). Meski si ga ngerti tentang puisi itu katanya. Hehehe
Puisi cinta. Hmmm, jadi terkenang masa-masa SMA dulu. Selagi diri ini masih ramai dalam soliloqui. Masih berkisah dan berkubang tentang sepi. Meski sindiran dari sang burung merak, W.S. Rendra, dalam puisinya yang berjudul terasa sekali menohok hati.
Yup. Bermain-main dengan sepi memang mengasyikkan. Kalau mau sedikit beretorika, bisalah dikatakan betapa kasihannya mahluk yang bernama sepi itu jika setiap orang tak menyukainya. Mungkin teman sepi hanyalah puisi dan ujung-ujung gerimis.
Sepi.
Lalu kutulis sebaris puisi
Sesederhana itu ternyata membuat puisi. Menulis puisi itu seperti membuat serabi (halah). Kalau dilihat sepintas, terlihat putih bersih. Bagus dan menarik. Apalagi masih hangat. Tapi kalau sudah agak lama, dingin, dan di bolak-balik, akan terlihat warna hitam dan hangus di bagian bawah. Gosong. Jelek dan tak menarik.
Begitulah, semakin hari, setiap puisi yang dulu pernah menyeruak dari jemari sepi makin tak berarti. Tanda-tanda puisi yang gagal kah? Entahlah. Yang jelas, satu-satunya puisi yang masih aku masih suka membacanya, ya puisi cinta yang pernah aku tulis di blog ini.