Hari ini para bandit berpesta pora. Makanan berlimpah ruah. Dan tentu saja, sebuah tatapan kosong di seberang sana mengintai dengan tajam. Entah kesumat yang terpendam, atau sekedar isak yang tertahan. Entah sayang…

Bandit
Mereka berpesta sayang. Dan aku pun tak peduli lagi. Para bandit itu, sebagian mungkin sadar kalau mereka memang bandit. Sebagian lagi pura-pura linglung. Sebagian lagi memang sudah terlalu banyak minum. Bandit-Bandit itu kian buta.
Kau juga tahu bukan? Hati itu seperi baju putih yang biasa kita pakai di permulaan pekan. Begitu halus, licin, dan kadang berbau harum. Harum yang saat ini benar-benar aku rindukan, dalam kenangan.
Baju putih itu mudah sekali ternoda. Tentu saja, sekuat apapun kita menjaganya, pada hari kamis baju itu sudah kusut dan bau keringat yang menusuk. Tapi yang paling kita sesali adalah jika ada bercak noda di baju putih kesayangan kita. Tak seperti kusut dan keringat yang menusuk, noda benar-benar membuat kita kesal.
Susah sekali menghilangkan noda di baju putih. Sekalipun kita tuang berliter pemutih, tetap saja butuh tenaga ekstra untuk menghilangkan noda yang terlanjut meresap ke serat-serat kain. Dan akhirnya tetap saja, ia bukan lagi baju putih yang sama.
Hatipun demikian adanya sayang. Jika kita begitu khawatir dengan noda kecil di baju putih, adakah kita punya kekhawatiran yang sama dengan hati kita?
Bandit-bandit itu jelas punya hati. Aku juga punya. Sama saja. Hanya saja parade maksiat setiap hari mengetuk pintu. Pintu yang sama. Di rumah yang sama. Dengan kemampuan menyaru yang seringkali tak terduga. Kadang dengan rasa iri, kadang dengan denting setan bersahutan, kadang dengan harumnya dunia yang memabukkan, kadang dengan nafsu membunuh yang begitu kejam.
Sayang, Jika syirik itu seperti seekor semut hitam di atas batu hitam di tengah malam yang kelam, bagaimana menurutmu dengan maksiat yang sekarang ini berparade tiap hari?















































