Dunia pesantren ternyata begitu menakjubkan. Suatu dunia yang berbeda, aneh, asing, dan sekaligus (mungkin) aku rindukan. Setidaknya itulah yang aku dapat setelah membaca ¾ buku Negeri Lima Menara.

Men In Black
Ada banyak hal di dunia pesatren yang begitu berbeda dengan dunia luar. Tapi justru perbedaan itulah yang membuat dunia pesantren bisa eksis sampai saat ini. Dunia yang bersahaja. Dunia yang sebenarnya…begitu dekat, namun juga jauh.
Mungkin terlalu kompleks jika diceritakan semuanya di sini. Yang ingin aku tulis di sini hanya sebuah noktah kecil dalam buku Negeri Lima Menara. Sebuah noktah yang menurutku sangat dekat dengan kehidupan kita secara umum.
Jasus namanya. Jasus berasal dari bahasa Arab. Artinya mata-mata. Apa yang begitu menarik dari jasus? Bagiku yang tak pernah merasakan aroma pesantren, jasus sangatlah menarik. Sebuah system pengawasan yang sederhana, namun sangat efektif. Dan sekaligus bernilai falsafah tinggi.
System jasus sangat sederhana. Awalnya seseorang yang melakukan pelanggaran, baik tertangkap basah maupun tidak, di catat identitasnya oleh petugas keamanan. Selanjutnya, sang pesakitan ini dipanggil ke Kantor Pengamanan. Disana, sang pesakitan di beri hukuman yang setimpal dengan pelanggaran yang dilakukan. Mulai dari yang paling ringan, sampai yang paling memalukan. Selain itu, sang pesakitan mendapat sebuah kartu. Dari sinilah jasus bermula. Sang pesakitan menjelma menjadi jasus dengan kartu itu.
ia mesti memasang mata dan telinga, mencari dan mengawasi setiap sudut pondok pesantren, dan mencatat minimal 2 orang yang melakukan pelanggaran agar dia bisa menjadi orang bebas lagi. 2 orang malang inilah yang kemudian menggantikannya sebagai jasus. Demikian seterusnya. Setiap orang bisa menjadi jasus, bahkan teman tidur sendiri tanpa ada kita sadari.
Di pondok pesantren, meski ada ribuan siswa, entah bagaimana sangat sulit menemukan pelanggaran. Oleh karena itu, menjadi jasus selalu jadi hukuman yang menakutkan. Jika dalam waktu yang telah ditetapkan ia tak bisa menemukan 2 orang yang melakukan pelanggaran, maka ia akan mendapat beban 2 kali lipat. Yaitu menemukan 4 orang yang melakukan pelanggaran.
Sebuah system yang sederahana, namun penuh dengan makna. Dengan system ini, sebuah kelompok paling massif sekalipun menjadi tertata rapi. Tembok, pohon, rumah, bahkan udara terasa mempunyai mata dan telinga. Setiap orang berusaha agar tak melakukan pelanggaran. Akhirnya, mungkin terjadi hanyalah pelanggaran-pelanggaran kecil yang memang sudah merupakan fitrah manusia.
selain itu, sesungguh system ini juga menjaga agar para siswa senantiasa mawas diri. karena bagaimanapun, setiap orang bisa melakukan hal-hal yang buruk. baik disadari maupun tidak. dengan adanya jasus, maka setiap orang, sadar maupun tidak, akhirnya berusaha menjaga dirinya sendiri dari melakukan hal-hal yang dilarang.
Dari system jasus ini, jika mau ditarik benang merah, seseungguhnya mengajarkan bahwa setiap gerak-gerik, ada yang selalu mengawasi. Jasus -dan semua system pengawasan yang diciptakan manusia- bisa membuat setiap individu berhati-hati dalam bertindak gerak. demikian juga mestinya, setiap manusia menyadari bahwa setiap tindak tanduknya ada yang mengawasi. Bahwa setiap tindakan akan mendapat balasan yang setimpal.
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu (Q.S. An Nisaa’ : 1)















































