Beberapa malam lalu menyempatkan diri membaca sebuah buku. Isinya adalah kumpulan esay yang pernah dimuat di sebuah media massa dalam kurun waktu tertentu. Hampir semua tulisan dalam buku itu menarik. Apalagi diselingi dengan sedikit data dan fakta yang seringkali membuatku tercengang.

Kanibalisme Modern
Di seluruh dunia, ada banyak suku kanibal. Namun nyaris semua telah punah ataupun meninggalkan praktik kanibalisme ini.
Suku kanibal ini, seringkali melakukan kanibalisme dengan alasan peperangan. Etnis Tupinamba asal Amerika Selatan yang tinggal di sekitar Brazilia, Paraguay, dan Argentina, misalnya, memiliki kebiasaan menyantap tawanan perangnya sebagai aksi balas dendam demi keluarga yang gugur dalam peperangan. Demikian juga Suku Dayak, selain mengoleksi tengkorak yang telah dikecilkan, ternyata juga memakan jantung korban perangnya. Adat ini disebut ngayau. Sedangkan Suku Kapau di Papua Nugini menyantap hati dan biseps kanan musuh bebuyutannya.
Selain alasan peperangan, ada juga yang melakukannnya karena alasan kepercayaan. Misalnya suku Aztec yang melakukan kanibalisme dalam ritual keagamaannya.
Setidak-tidaknya, suku-suku ini mempunyai ‘pembenaran’ atas tindakan kanibalisme mereka. Minimal ‘pembenaran’ dari budaya dan adat yang telah menjadi konsensus suku itu sendiri.
~*~
masih adakah kanibalisme di jaman sekarang? Masih. Hanya saja alasan melakukan kanibalisme telah bergeser. Sebuah kejadian kecelakaan pesawat di pegunungan Andes menjadi bukti shahih masih adanya kanibalisme. Pada kecelakaan pesawat yang terjadi tahun 1972, 16 orang penumpang yang selamat terpaksa menyantap 29 daging penumpang lainnya yang telah meninggal. Para penumpang asal Uruguay tersebut harus bertahan hidup selama 72 hari sebelum dijangkau oleh tim penyelamat.
Alasan para penumpang yang selamat itu –yaitu kelaparan- mungkin masih
bisa dimaklumi. Namun sebenarnya, masih banyak terjadi kanibalisme di sekitar kita. Hanya sahaja, seringkali kita tak menyadarinya. Bahkan ketika kita menjadi pelaku kanibalisme itu sendiri.
Kanibalisme di sekitar kita tentu saja tak terjadi sebagaimana suku-suku kanibal dulu. Juga tak seperti tragedy kecelakaan pesawat di Uruguay.
Kanibalisme di sekitar kita adalah kanibalisme terselubung. Kanibalisme tak langsung.
Adanya tangis bayi yang kelaparan di suatu malam, kemudian paginya tanah berubah merah tentu adalah isyarat yang nyata dari kanibalisme. Bantuanuntuk korban bencana yang disunat sana sini, tentu kanibalisme juga. Makan uang rakyat tanpa hak, tentu kanibalisme juga. Tanpa sadar, ada orang-orang yang memakan daging saudaranya sendiri. Bedanya, mereka jauh lebih kejam, lebih bengis, dan lebih sadis. mereka melakukan kanibalisme pada orang yang masih hidup. Sedikit demi sedikit. Sekerat demi sekerat. Hingga mereka merasakan sakit yang sangat.
Kanibalisme bukan sekedar memakan daging manusia secara hakikat. Namun juga ‘memakan’ amanat yang telah dipercayakan pada kita. Berapa rupiah yang masuk ke kantong kita dan berapa rupiah yang memang layak menjadi daging bagi tubuh kita. Dan berapa kerat daging rakyat yang kita jejalkan pada mulut-mulut kita dan mulut-mulut anak dan isteri kita?
Kanibalisme modern tidak memakan daging musuh a la suku Tupinamba, tapi justru memakan anak-anak mereka sendiri. memakan saudara-saudara mereka sendiri. dan kelak juga akan memakan hati-hati mereka sendiri.
Kanibalisme modern bukan sekedar ritual keagamaan a la suku Aztec. Namun juga ritual di hotel bintang lima. Sementara ratusan bahkan ribuan orang makan sekali sehari dan tidur di hotel bintang sejuta.
Kanibalisme bukan sekedar memakan jantung musuh dalam adat suku dayak, melainkan lebih kepada memakan denyut mimpi anak-anak negeri. Anak-anak negeri yang tak ingin lagi, hanya melihat teman dan saudaranya menggelayuti kemiskinan dan kematian. menjadi penyair salon a la Rendra, si Burung Merak.
Kanibalisme modern hakikatnya adalah memakan apa yang seharusnya tak kita makan. memakan hak orang lain. Jika seseorang merasa jijik memakan bangkai saudaranya sendiri, tidakkan ia juga merasa (lebih) jijik memakan daging saudaranya yang masih hidup?
dan sesungguhnya tiap suap nasi yang engkau masukkan ke dalam mulut istrimu, anakmu, adalah bernilai sodakoh. dan Alloh hanya menerima yang baik saja…















































